Opini  

HUTANG

Verdi Adhanta

Pemerhati Kehidupan

 

Sebenarnya itu ngutang pada siapa?
Ya ngutang pada diri Anda di masa depan.

Semua utang itu prinsipnya memindahkan kesejahteraan dari masa depan ke masa sekarang. Kerja di masa depan (labor) Anda, dipakai hari ini, yang memaksa Anda untuk bekerja sekian tahun ke depan. Paling tidak — itu teorinya. Tapi mari kita kaji lebih lanjut.

Ini fundamental dari sistem ekonomi modern, yang berbasis pada “pertumbuhan”, alias “growth”.

Asumsi dasar kapitalisme modern adalah bahwa masa depan harus selalu lebih produktif, lebih efisien dan lebih kaya dari masa sekarang. Jadi, “tumbuh” itu bukan opsional, melainkan nesesitas absolut. Itu mengapa ekonomi selalu mengkhawatirkan “pertumbuhan”, karena kalau tidak tumbuh, ya artinya nggak bayar utang.

Inilah yang menghancurkan ekologi, lingkungan dan lainnya, karena pada kenyataanya, Bumi dan sumber daya ternyata terbatas.

Dalam sistem kapitalisme modern yang dikelola oleh Bank, hutang adalah kehidupan itu sendiri. Bukan, ini bukan kalimat kritisisme puitis yang menggunakan bahasa metafora. Tapi secara literal, hutang itu bukan opsional. Hutang itu adalah kehidupan.

Mengapa?

Karena tidak ada hutang = tidak ada pertumbuhan. Tidak ada hutang = tidak ada uang.

Ketika Anda menghutang di bank, bank itu tidak memindahkan suatu dana / uang / atau apapun ke rekening Anda, melainkan secara literal mengetikkan sejumlah angka uang itu out-of-nothing, dari udara kosong, muncul begitu saja. Misalnya orang bernama A ingin pinjam uang 100 juta untuk beli mobil, maka uang itu muncul begitu saja di bank tersebut, sejumlah pokok hutang yang dihutangi A, yaitu ya 100 juta rupiah. Maka disebut hutang A punya Pokok P = 100 juta.

Bank punya tambahan asset pitutang 100 juta dan komitmen si A untuk membayar 100 juta di masa depan.

Status neraca: Piutang (100) dan Kewajiban bank (saldo si A = -100), jadi 100 + -100 = 0.

Tapi, nilai baru 100 juta muncul di perputaran (dalam bentuk mobil yang dibeli si A), mobil ini tentu menggaji labor pekerja si pembuat mobil dan keuntungan si pemilik modal pabriknya.

Bank boleh sebebas-bebasnya menciptakan uang baru ini selama perbandingannya dengan jumlah uang beneran yang dia simpan masih dibawa ratio Reserve Requirement Ratio atau Giro Wajib Minimum (GWM).

Nah, kalau si A tadi bayar hutang, misal bayar 10 juta dengan bunga 1 juta, maka jumlah uang yang diciptakan oleh Bank tadi akan dihancurkan sebesar pokok yang dibayarkan, misal tadi 100 juta, dibayar pokoknya 10 juta, maka angka 10 juta tersebut kembali hilang ke ketiadaan, sehingga tersisa 90 juta. Uang 1 juta (bunga) tadi, jadi milik bank. Maka bertambahlah ‘uang beneran’ bank sebesar 1 juta, yang berarti jika rasio GWM nya 10:1, maka saat itu juga si Bank bisa meminjamkan 10 juta rupiah lebih banyak, alias, Bank boleh “mengetikkan” angka / menciptakan uang 10 juta rupiah lebih banyak dari sebelumnya untuk dihutangkan.

Tampaknya baik-baik saja, sampai kita lihat bagaimana jika si B, si C, si D dan seterusnya, juga berhutang.

Ketika Si B berhutang, katakanlah untuk bangun rumah, maka ia juga akan membayar pokok + bunga. Si C berhutang untuk kawinan, maka ia akan membayar pokok + bunga. Kemudian si D, si E dan seterusnya.

Tiba-tiba, si A, si B, si C, si D, si E dan seterusnya, harus berkompetisi memperebutkan uang untuk membayar bunga tersebut. Ini -harus- terjadi karena kalau si B tidak berhutang, maka si A tidak akan pernah bisa menemukan uang 10 juta yang dibutuhkannya untuk membayar bunga, karena uang diciptakan oleh hutang. Jika B tidak berhutang untuk membangun rumah, maka tidak ada 100 juta yang beredar di pasar untuk A membayar bunga utangnya.

Demikian juga B bergantung pada C, dan C bergantung pada D, dan D bergantung pada E, dan seterusnya.

Sehingga, ada garis tipis dimana ekonomi kapitalisme ini disebut sehat.

Jika Utang baru lebih besar dari Pelunasan, maka ekonomi disebut tumbuh, terjadi inflasi “sehat”, dan terjadi ekspansi bisnis. Ini mengapa ‘inflasi’ adalah normal dan sehat dalam kapitalisme pertumbuhan.

Jika Utang baru sama dengan pelunasan, maka ekonomi disebut stagnan, persaingan berebut uang untuk membayar bunga, menjadi panas.

Jika Utang baru < Pelunasan, maka terjadilah yang disebut Krisis Moneter, resesi, kebangkrutan yang terjun dalam spiral deflasi.

Sebagaimana Anda bisa bayangkan sekarang: bahwa ekonomi kapitalisme pertumbuhan jadi semacam skema ponzi raksasa. Karena Bumi dan sumber daya alam terbatas, maka jika kita perbesar ‘uang’ itu ke lintas negara, maka pasti ada kelompok masyarakat yang akan bergantung dari kekurangan (perampasan) kerja atau sumber daya dari masyarakat di wilayah lain untuk mensupport perpusaran tersebut, karena selalu dibutuhkan sumber baru untuk menutupi perputaran siklus hutang di kelompok masyarakat di tempat lain.

Nah, ketika melihat film tentang Papua, atau orang-orang lain yang dirampas kesejahteraan hidupnya, pikirkanlah skema pertumbuhan ekonomi ini, dan hutang-hutang Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *