Tidore — Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Tidore yang dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026 tidak hanya sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan di struktur organisasi, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk menentukan arah KAHMI Kota Tidore untuk lima tahun ke depan.
Momentum tersebut menjadi perhatian di tengah kebutuhan untuk memperkuat konsolidasi alumni HMI, dan membangun kolaborasi lintas generasi di semua profesi, dan serta meningkatkan kontribusi KAHMI terhadap berbagai persoalan masyarakat terjadi di Kota Tidore Kepulauan
Salah satu gagasan yang mengemuka dalam kontestasi kepemimpinan KAHMI Kota Tidore adalah pentingnya menjadikan KAHMI sebagai rumah besar alumni HMI yang terbuka, inklusif, produktif dan mampu mengonsolidasikan berbagai potensi alumni. Dalam konteks tersebut, ada beberapa nama yang muncul mencalon diri sebagai peresidium yang di bicangkan untuk memimpin KAHMI Medan periode 2026–2031.
Menurut Ketua panitia Hambali Muhammad, bahwa dari sejumlah nama yang muncul dalam bursa calon Ketua MD KAHMI Kota Tidore merupakan senior-senior yang dinilai mampu menyatukan berbagai potensi alumni HMI.
“Di semua nama-nama calon presidium, kami anggap semuanya mempunyai kemampuan untuk menyatukan potensi. Kami melihat ada kesamaan visi bahwa KAHMI Kota Tidore harus tetap menggunakan sistem presidium, bukan presidensil,” ujar Hambali Muhammad
Menurutnya, model kepemimpinan tersebut penting untuk memastikan organisasi memiliki arah yang jelas, kepemimpinan yang efektif dan tanggung jawab yang terukur.
Hambali menilai bahwa KAHMI Kota Tidore membutuhkan figur-figur yang mampu menjadi simpul pemersatu berbagai kelompok dan latar belakang alumni, bukan justru memperlebar sekat di antara sesama kader dan alumni HMI.
“Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang mampu merangkul seluruh potensi yang ada di KAHMI Kota Tidore dan KAHMI Kota Tidore juga harus memiliki banyak alumni dengan kapasitas dan jaringan yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi itu bisa disatukan dan diarahkan untuk kepentingan organisasi serta masyarakat,” tutup Hambali Muhammad












