Digitalisasi pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di era modern. Pemanfaatan teknologi digital dapat membantu memperluas akses terhadap sumber belajar, meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, serta menciptakan metode belajar yang lebih inovatif dan interaktif.
Meskipun demikian, penerapan digitalisasi pendidikan juga memerlukan kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, serta kemampuan literasi digital bagi siswa.
Dengan dukungan yang tepat, digitalisasi pendidikan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan di masa depan.
Pertanyaan nya adalah. Apakah “digitalisasi pendidikan” di Indonesia merupakan program siapa dan untuk siapa?
Well, silahkan dilihat dari trend pendidikan ASEAN, Malaysia yang lebih jauh mendahuluinya, sejak tahun 2011. Dan tahun setelah Covid, baru Indonesia dipaksa untuk melakukan digitalisasi.
Dari sisi substansi, untuk pedagogi digital, Singapura yang jauh lebih maju, dengan memasukkan “berfikir komputasional” sejak tahun 2016, sedangkan seingat saya, “berfikir komputasional” baru diangkat Indonesia kurang lebih setelah Covid, sekitar tahun 2020.
Kalau tak salah sih tahun 2020an, karena baru ketika Kurikulum Merdeka memberi kesempatan dua atau lebih guru mata pelajaran mensingkronisasi materi pembelajaran, sehingga saya bisa menggabungkan materi algoritma dalam mata pelajaran saya (Pemrograman) dengan materi “berfikir komputasional” guru mapel Informatika.
Ketika diskusi dengan guru-guru daerah 3T tepatnya dipulau Sabira, saya ingat memberi masukkan untuk “berfikir komputasional” dengan metode pembelajaran matematika sehari-hari mereka, memanfaatkan kegiatan kerja sehari-hari orang tua para siswa tersebut: nelayan, dari mulai pakai tong ikan, bahan bakar solar, jarak tempuh ke lokasi titik ikan, dan sebagainya.
Proses pembelajaran yang kontekstual semacam itulah yang kemudian menjadi tantangan dari pedagogi digital, bukan soal alat atau ekosistem macam Chromebook. Itu sih sederhana: pilih saja yang paling murah! Kecuali kalau seperti Singapura — yang bisa lebih fleksibel memilih platform.
verdi adhanta












